Judul Slide 1

Deskripsi Slide 1

Judul Slide 2

Deskripsi Slide 2

Judul Slide 3

Deskripsi Slide 3

Judul Slide 4

Deskripsi Slide 4

Judul Slide 5

Deskripsi Slide 5

Kamis, 09 Juli 2015

Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik

Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik
Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi
Apa pun akan diusahakan oleh sekte Salafi Wahabi untuk membentengi dan memperkokoh ajaran menyimpang mereka yang rapuh secara dalil (naqli) maupun secara ilmiah (‘aqli). Di antara cara-cara tak terpuji yang mereka lakukan adalah penyelewengan isi kitab-kitab turats dan makhthuth Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik. Apa pun akan diusahakan oleh sekte Salafi Wahabi untuk membentengi dan memperkokoh ajaran menyimpang mereka yang rapuh secara dalil (naqli) maupun secara ilmiah (‘aqli). Di antara cara-cara tak terpuji yang mereka lakukan adalah penyelewengan isi kitab-kitab turats dan makhthuth (manuskrip) dari teks aslinya, baik dengan menghapus, menambah dan mengubah tulisannya, ataupun membelokkan maksud dan artinya dalam edisi cetakan mereka.

Maka tidak mengherankan jika Anda menemukan para pengikut Salafi Wahabi begitu fasih mencuplik pendapat ulama Ahlussunnah kenamaan yang selama ini menjadi rujukan Anda. Akan tetapi, jika Anda teliti lebih jauh, ternyata pendapat yang mereka cuplik itu telah diolah sedemikian rupa oleh tangan-tangan terampil para pemalsu kitab. Buku ini berisi bukti-bukti ilmiah tentang pemalsuan teks-teks keagamaan yang dilakukan oleh Sekte Salafi Wahabi. Mulai dari kitab tauhid, kitab tafsir, kitab hadits, hingga kitab fikih. Baik karya ulama klasik maupun tulisan ulama kontemporer. Tidak berlebihan jika dikatakan, inilah buku pertama di Indonesia yang membongkar penyelewengan sekte Salafi Wahabi terkait pemalsuan kitab-kitab. 

Buku ini mengajak siapa saja, para kiai, para ustadz, para santri, hingga para awam, agar mengenal dan mewaspadai cara-cara kurang terpuji yang dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab demi menopang klaim kebenaran yang mereka propagandakan.

Rabu, 08 Juli 2015

Buku Ulama Sejagat Menggugat Salafi Wahabi

Judul: Ulama Sejagat Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Tahun Terbit: 2013 (cetakan ke-11, cet pertama:2011)
Penerbit: Pustaka Pesantren
Tebal: 338 halaman

Sebenarnya apakah sekte Muslim salafi itu? Mengapa mereka sering sekali melontarkan ujaran kebencian (hate speech) kepada orang-orang di luar mereka?
Dalam buku ini dijelaskan bahwa salafi adalah bentuk nisbat terhadap kata as-salaf, yang bermakna ‘orang-orang yang hidup sebelum zaman kita’. Secara terminologis, as-salaf mengacu kepada sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ”Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’at-tabi’in).”
Oleh karena itu, menurut penulis buku ini, seorang salafi berarti seorang yang mengikuti ajaran sahabat Rasulullah, tabi’in, dan  tabi’at-tabi’in. Siapapun yang mengaku muslim sedikit banyak memiliki kadar ‘kesalafian’ dalam dirinya meskipun dia tidak menggembar-gemborkan bahwa dirinya salafi.
Sayangnya, akhir-akhir ini istilah salafi sudah tercemar. Ada sebagian kelompok (sekte) yang begitu giat melakukan propaganda dan klaim sebagai satu-satunya kelompok salaf, sedangkan yang lain mereka tuding tidak mengikuti salaf. Yang lebih berbahaya, kelompok ini cenderung menyimpang dari ajaran Islam yang benar yang dianut oleh mayoritas umat Islam dari sejak zaman Rasulullah sampai sekarang.
Penulis melanjutkan,
“Siapakah sebenarnya kelompok yang mengaku sebagai Salafi yang sekarang mulai marak tersebut? Ketahuilah saudaraku, kelompok yang sekarang mengaku-aku sebagai Salafi ini dahulu dikenal dengan nama Wahabi. Sewakti di Jazirah Arab mereka dikenal dengan Wahhabiyah Hanbaliyah. Namun, ketika diekspor keluar Saudi, mereka menamakan dirinya dengan Salafi.” (hlm 35)
Prof Dr. Said Ramadhan Al Buthi adalah salah satu ulama besar yang membongkar topeng mereka ini. Dalam bukunya As-salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islamy, beliau mengatakan bahwa Wahabi berganti  baju menjadi Salafi atau terkadang Ahlussunnah –seringnya tanpa diikuti waljamaah- karena mereka merasa risih disebut Wahabi. Selain itu mereka juga mengalami kegagalan dalam propaganda mereka karena imej buruk yang sudah tersebar atas nama Wahabi. Semua orang yang mengetahui sejarah Arab pasti akan tahu bahwa sejarah kemunculan Wahabi dipenuhi dengan tumpahnya darah kaum muslimin.
Buku ini dengan rinci menjelaskan seluk-beluk Salafi Wahabi, dalam 3 bagian:
  1. Penyimpangan Tiga Tokoh Ulama Salafi Wahabi (Ibnu Taimiyah, Abdul Wahab, Nashiruddin Al Albani)
  2. Mewaspadai Para Tokoh Salafi Wahabi dan  Propaganda Mereka (antara lain: Muhammad bin Abdul Wahab, Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, Albani, Ibnu Fauzan, Nashir As-Sa’di, Al Madkhali, dll)
  3. Bantahan dari Ulama Internasional
Di bagian ketiga ini, penulis membahas ratusan buku-buku para ulama Islam yang  membantah Salafi Wahabi, fatwa ulama Al Azhar bahwa Salafi Wahabi adalah sesat, serta pernyataan Pusat Fatwa Mesir dan Al Azhar bahwa pembagian tauhid versi Salafi-Wahabi adalah sesat.
Ternyata pembagian tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyyah (sebagaimana yang gencar disebarluaskan di mentoring/kegiatan keislaman di kampus-kampus) adalah pembagian tauhid versi Salafi Wahabi. Dalam buku ini disebutkan:
 “Pembagian tahuid menjadi dua macam ini adalah ajaran baru yang digagas oleh Ibnu Taimiyyah (wafat 1328 M)  dan kemudian dipopulerkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (pendiri wahabi, wafat 1792 M).Faham ini menyatakan bahwa tauhid (pengesaan) kepada Allahtidak cukup sebagai bentuk keimanan. Argumen mereka adalah: orang kafir zaman dulu juga telah bertauhid  (mengesakan Allah) dengan meyakini Dia sebagai pencipta dunia, namun tidak meyakini Allah sebagai Tuhan.” (hlm323-324)
Jadi, dalam doktrin Salafi Wahabi, ikrar syahadat tidak cukup; mereka menuduh, kebanyakan umat Islam hanya  beriman di mulut, tidak di hati. Akibatnya, mereka memiliki justifikasi untuk mengafirkan orang lain, meskipun sudah bersyahadat, dengan tuduhan ‘’mereka hanya beriman di mulut”. Dan atas dasar teologi seperti inilah sekte Salafi Wahabi menghalalkan pembunuhan terhadap sesama muslim, sebagaimana terjadi hari ini di Suriah. Korban para “mujahidin” beraliran Salafi Wahabi kini bukan saja orang-orang Syiah dan Kristen, tetapi juga orang-orang Sunni, bahkan termasuk Syekh Al Buthi dan beberapa ulama Sunni Suriah lainnya. Karenanya, buku sangat penting dipelajari oleh kaum muslimin Indonesia agar tidak terjebak dalam kesesatan pemikiran.

Buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

Judul: Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama
Penulis: Syaikh Idahram
Tebal: 278 hlm
Ukuran: 13,5 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-8995-00-9
Terbit: Cetakan I, 2011
Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta.
Peresensi: M. Ajie Najmuddin*


KH Said Agil Siroj, dalam kata pengantar beliau di buku ini mengungkapkan bahwa kemunculan Salafi Wahabi di abad ke-18 M meskipun tidak termasuk ke dalam golongan Khawarij, tetapi antara keduanya, ada beberapa kesamaan. Kelompok Wahabi, seperti hendak mengulangi sejarah kekejaman kaum Khawarij, yang muncul jauh sebelumnya pada tahun ke-37 Hijriah, tatkala melakukan pembongkaran tempat-tempat bersejarah Islam dengan dalih memerangi kemusyrikan. Tak cukup dengan tindakan itu, mereka bahkan tak segan untuk membantai terhadap sesama umat muslim sendiri, bahkan para ulama yang tidak sejalan dengan pemikiran (sempit) mereka.

Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok–kelompok ekstrim tersebut secara langsung telah mencoreng nama Islam. Islam adalah agama yang sempurna dan tidak mengajarkan umatnya untuk berbuat kerusakan, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77). Apa yang dipaparkan dalam buku ini, tentang sejarah tindakan ‘merusak’ yang dilakukan oleh kelompok Salafi Wahabi ini tidak boleh kita lupakan dan mesti kita waspadai.

Lantas siapakah sebenarnya kelompok Salafi Wahabi yang dimaksud dalam buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama ini? Penulis buku, Syaikh Idahram, menjelaskan bahwa nama wahabiyah ini dinisbatkan kepada Muhammad ibnu Abdul Wahab, yang lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H. Adapun kata Salafi, berasal dari kata as-salaf yang secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Adapun secara terminologis, as-salaf adalah generasi yang dimulai dari para sahabat, tabi’in dan tabi’at tabi’in. Mereka adalah generasi yang disebut Nabi Saw sebagai generasi terbaik.

Namun demikian, penggunaan istilah Salafi tersebut oleh sebagian kelompok Islam tertentu dijadikan propaganda. Mereka melakukan klaim dan mengaku sebagai satu-satunya kelompoksalaf. Ironisnya, mereka kemudian menyalahkan dan bahkan mengkafirkan muslim lain yang amalannya ‘tidak sesuai’ dengan paham yang mereka anut. Mereka menganggap sesat terhadap umat muslim lain, yang dianggap melakukan perbuatan bid’ah, semisal ziarah kubur mereka tuduh sebagai perbuatan syirik.

Lebih dari itu, sederet data dan fakta penyimpangan serta rentetan sejarah pembunuhan yang terpapar dalam buku ini, menyisakan sejumlah pertanyaan, apakah tindakan mereka tidak menyalahi ajaran Islam sebagai “rahmat bagi semesta alam”?

Kita pasti akan miris, ketika membaca tulisan tentang sejumlah tindakan kelompok Wahabi yang melakukan banyak pembantaian terhadap umat Islam serta ulamanya. Seperti yang mereka lakukan tatkala menyerang kota Thaif, Uyainah, Ahsaa, bahkan Makkah dan Madinah, juga tak luput dari sasaran keganasan mereka. Sayid Ja’far Al-Barzanji dalam salah satu bukunya menuturkan, ketika Wahabi menguasai Madinah, mereka merusak rumah Nabi saw, menghancurkan kubah para sahabat, dan setelah melakukan perusakan tersebut mereka meninggalkan Kota Madinah dalam keadaan sepi selama beberapa hari tanpa azan, iqamah, dan shalat.

Apabila ditelisik lebih dalam setidaknya ada dua faktor penyebab kemunculan kelompok seperti Wahabi. Pertama, pada dasarnya kemunculan mereka bermula dari sejarah pertarungan pengaruh dan kekuasaan (politik). Muhammad bin Abdul Wahab yang terusir dari kaumnya, kembali mendapat angin segar ketika bertemu dengan penguasa Dir’iyah, Muhammad ibnu Saud. Ajaran Wahabi akan terlindungi manakala bernaung dalam kekuatan penguasa, di sisi lain kekuasaan akan semakin menancapkan kukunya tatkala mendapat legitimasi ajaran agama. Jadi perjuangan Wahabi bersama ibnu Saud, bisa dikatakan tak lebih hanya pertarungan perebutan kekuasaan yang berkedok agama.

Faktor lain yang mendasari tindakan ekstrim mereka, diantaranya juga karena pemahaman mereka yang kaku dalam memahami teks-teks agama (tekstual), sehingga cenderung terjerumud dalam memahaminya. Misalnya, mereka sangat kaku dalam memahami perintah-perintah Rasulullah saw. Paradigma ini yang kemudian menyebabkan mereka dengan mudahnya menyalahkan dan mengkafirkan umat muslim lain. 

Penulisan buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama ini adalah untuk menjelaskan semua itu secara ilmiah, dengan bukti yang kuat baik secara aqli dan naqli. Buku ini menyingkap hal-hal penting dibalik wabah takfir (pengkafiran),tasyrik (pemusyrikan), tabdi' (pembid'ahan) dan tasykik (upaya menanamkan keraguan) terhadap para ulama ahlussunnah wal jama'ah yang marak menjamur akhir-akhir ini. Semuanya disuguhkan secara sistematis namun ringan. Buku ini tidak hendak bertujuan untuk memecah belah persatuan umat Islam, tetapi lebih merupakan sebuah upaya untuk mengingatkan akan bahaya dan menyadarkan umat dari paham-paham ekstrim tersebut.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar, semestinya memberikan perhatian tegas dan serius dalam upaya untuk mencegah dan menghentikan pengaruh pemahaman yang dapat mengarah pada tindakan terorisme dan eksklusivisme semacam ini, yang pada akhirnya dapat mengancam persatuan umat. Dalam salah satu komentar para tokoh tentang keberadaan buku ini, ketua MUI, KH Ma’ruf Amin menegaskan, “Dengan membaca buku ini diharapkan seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih sayangnya,lapang dada dalam menerima perbedaan dan adil dalam menyikapi permasalahan”.

Dan memang bagi para pembaca dari kalangan luar Wahabi, buku ini dapat memberikan informasi yang cukup, sehingga dapat mengetahui bahaya pengaruh serta mengetahui ciri paham ekstrim. Sedangkan bagi para simpatisan wahabi, buku ini juga dapat menjadi sumber informasi yang jelas, sehingga mereka akhirnya tahu dan sadar akan sejarah paham yang mereka anut. Semoga kita semua diberi petunjuk oleh Allah Swt  untuk senantiasa tetap menuju ke jalan yang lurus dan benar.